KAB. CIREBON, (FC).- Pemerintah Kabupaten Cirebon terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal sebagai upaya menekan angka pengangguran sekaligus menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Melalui program pelatihan berbasis kompetensi, sebanyak 688 pencari kerja ditargetkan mendapatkan pembekalan keterampilan sepanjang tahun 2026. Program tersebut dilaksanakan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) dan Mobile Training Unit (MTU) dengan dukungan anggaran dari APBD, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), serta APBN.

Bupati Cirebon, H. Imron, mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu kunci utama dalam menciptakan iklim investasi yang sehat di Kabupaten Cirebon.

Menurutnya, masuknya investasi ke daerah harus dibarengi dengan kesiapan tenaga kerja lokal agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengambil peluang dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi investor untuk masuk ke Kabupaten Cirebon. Namun, masyarakat juga harus dipersiapkan dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan dunia usaha,” ujar Imron saat membuka pelatihan kerja di UPTD Pelatihan Kerja Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon, Rabu (29/7/2026).

Imron menyebutkan, kondisi ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon terus mengalami perbaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 7,65 persen pada 2023 menjadi 6,74 persen pada 2024, dan kembali menurun menjadi 6,42 persen pada 2025.

Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami peningkatan dari 69,27 persen menjadi 69,28 persen. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja agar mampu bersaing di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menjelaskan pelaksanaan pelatihan dilakukan secara bertahap dengan menjangkau masyarakat melalui BLK maupun MTU di berbagai wilayah.

Materi pelatihan, kata Novi, dirancang berdasarkan kebutuhan pasar kerja sehingga peserta memiliki peluang lebih besar untuk terserap dunia industri.

“Konsepnya adalah link and match, kompetensi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” katanya.

Beberapa pelatihan yang menjadi prioritas di antaranya menjahit, pengelasan, digital marketing, serta berbagai bidang keterampilan lainnya. Pelatihan menjahit menjadi salah satu perhatian karena sektor industri garmen dan alas kaki di Kabupaten Cirebon masih membutuhkan banyak tenaga kerja terampil.

Selain pelatihan berbasis kompetensi, Disnaker Kabupaten Cirebon juga terus mengembangkan program magang wirausaha yang telah berjalan selama dua tahun terakhir. Program tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta, mulai dari keterampilan teknis, manajemen usaha, hingga pengelolaan bisnis.

Namun, Novi mengakui jumlah peserta yang dapat difasilitasi melalui program pelatihan masih belum mampu menjangkau seluruh pencari kerja di Kabupaten Cirebon.

Karena itu, pihaknya mendorong penguatan kerja sama dengan dunia pendidikan, terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), agar lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.

“Kolaborasi dengan dunia pendidikan sangat penting supaya lulusan yang masuk ke dunia kerja benar-benar memiliki keterampilan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (Ghofar)