Pohon Tabebuya Bermekaran di Majalengka, Suasana Mirip Negeri Sakura
MAJALENGKA, (FC).– Warna merah muda, putih, dan kuning menyelimuti sejumlah ruas jalan di Kabupaten Majalengka. Pohon tabebuya yang bermekaran di tengah musim kemarau menghadirkan panorama menyerupai musim semi di Jepang, mengubah jalur lalu lintas sehari-hari menjadi pemandangan yang memanjakan mata.
Kelopak bunga yang menghiasi ranting hingga berguguran di tepi jalan menciptakan suasana berbeda. Di antara deru kendaraan dan kesibukan warga, tabebuya menghadirkan sentuhan warna yang mempercantik wajah kota sekaligus menarik perhatian masyarakat yang melintas.
Namun, keindahan tersebut bukan sekadar persoalan estetika. Deretan tabebuya yang tumbuh di sejumlah titik Majalengka merupakan bagian dari upaya penghijauan dan penataan lingkungan untuk menciptakan kawasan yang lebih asri.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, mengatakan tabebuya memiliki karakteristik berbunga saat musim kemarau dengan beragam warna yang mencolok.
“Ini namanya pohon tabebuya. Bunga bermekaran memang di musim kemarau. Warnanya ada kuning, merah muda, dan putih,,” kata Wawan, Selasa (F-10).
Wawan menjelaskan, pohon tabebuya telah ditanam di sejumlah taman dan kawasan strategis di Majalengka. Di antaranya Taman Jomantara, kawasan Majalengka Creative Center (MCC), hingga ruas jalan menuju kantor Kementerian Agama (Kemenag).
Penanaman juga dilakukan di sejumlah ruas jalan provinsi sebagai bagian dari program penghijauan daerah. Salah satu upaya tersebut direalisasikan pada tahun sebelumnya, bertepatan dengan 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Majalengka.
Saat itu, DLH Kabupaten Majalengka menanam sebanyak 2.000 pohon tabebuya di dua jalur, yakni Kadipaten-Cikijing dan Cigasong–Sindangwangi.
Program tersebut diharapkan tidak hanya memperindah bentang jalan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang lebih hijau dan nyaman bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, sebagian pohonnya sekarang sudah mulai belajar berbunga,” ujar Wawan.
Mulai bermekarannya pohon-pohon tersebut menjadi tanda bahwa upaya penghijauan yang dilakukan secara bertahap mulai menghadirkan perubahan visual di sejumlah kawasan Majalengka.
Meski kerap disebut menyerupai bunga sakura Jepang, tabebuya merupakan jenis pohon yang berbeda. Daya tariknya terletak pada bunga yang tumbuh lebat, warna yang mencolok, serta kemampuannya menghadirkan panorama khas ketika memasuki masa berbunga.
Wawan mengaku momen mekarnya tabebuya kali ini menjadi perhatian tersendiri. Ia bahkan meminta jajarannya mengabadikan keindahan bunga tersebut melalui video agar suasana yang hanya muncul pada periode tertentu itu tidak terlewatkan.
Menurutnya, keberadaan pohon di sepanjang jalan dapat memperkuat karakter visual kota sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang melintas. Wawan berharap penanaman tabebuya di berbagai titik dapat menghadirkan panorama khas Majalengka setiap kali musim berbunga tiba. Lebih dari itu, keberadaan pohon-pohon tersebut diharapkan mendorong kepedulian masyarakat terhadap penghijauan dan pentingnya menjaga ruang terbuka hijau.
Keindahan tabebuya juga dirasakan warga. Fini Pujiyanti, warga Majalengka, menilai bunga yang bermekaran memberikan suasana berbeda di sepanjang jalan yang biasa dilalui masyarakat. Bagi warga, panorama tersebut menjadi daya tarik tersendiri tanpa harus bepergian jauh untuk menikmati pemandangan bernuansa musim semi.
“Sekarang beberapa jalan protokol di Majalengka, saat pohon tabebuya berbunga serasa di Jepang,” ujar Fini singkat.
Jalan yang sebelumnya identik dengan aktivitas mobilitas kini tampil lebih berwarna. Ranting-ranting yang dipenuhi bunga dan kelopak yang jatuh di tepi jalan menghadirkan lanskap yang sekilas mengingatkan pada Negeri Sakura.
Mekarnya tabebuya menjadi pengingat bahwa keindahan kota dapat tumbuh dari langkah sederhana, yakni menanam pohon, merawat lingkungan, dan menjaga ruang hijau agar terus memberi manfaat bagi masyarakat. (Munadi)


Tinggalkan Balasan