Kehadiran Pom Mini Pertashop Berdampak Positif Bagi Warga di Pedesaan
MAJALENGKA, (FC).- Wajah lelah nampak dari seorang pengendara yang menuntun motornya karena kehabisan BBM. Pria paruh baya itu kebingungan mencari SPBU atau penjual BBM eceran untuk mengisi kendaraannya.
Dengan tenaga yang tersisa pria yang mengaku bernama Wais Al Qorni itu lalu mendorong kendaraannya mencari BBM di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Tak kurang dari 2 KM, Wais biasa ia disapa terus menuntun motornya sambil berharap ada penjual BBM eceran atau juga ada seseorang yang bersimpati mau menolongnya.
Namun sejauh ia mendorong kendaraannya, harapan itu tak juga kunjung datang. Bahkan yang lebih mirisnya lagi selama menuntun motornya, tidak ia jumpai pengendara lain untuk sedikit empati kepadanya, seperti menawarkan jasa menolongnya.
Wais Al Qorni kehabisan BBM, di Jalan Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Namun Wais tetap semangat menuntun motornya itu untuk mencari penjual BBM eceran.
Karena untuk mencari SPBU kayanya cukup sulit dari lokasi yang saat ini ia lewati. Faktanya benar saja, sudah ribuan meter ia menuntun motornya, tak satupun penjual BBM eceran ia temui.
Rasa senang mulai nampak setelah dirinya melihat antrian kendaraan bermotor mengisi BBM di sebuah Pom Mini Pertashop yang tak jauh dari Jembatan Bendung Rentang Jatitujuh.
Tak menyia-nyiakan waktu, Wais Al Qorni pun turut berjejer antri bersama puluhan pengendara motor lainnya yang sama sama akan mengisi BBM.
Tibalah saatnya motor yang ia tuntun mulai diisi BBM non subsidi jenis Pertamax, tampa basa basi ia pun bilang kepada penjual BBM untuk mengisi tangki sepeda motornya full tank.
“Mas isi full tank ya,” ujar Wais sapaan akrabnya, Selasa (13/10).
Setelah mengisi BBM jenis Pertamax, Wais pun istirahat sejenak di sebuah warung kopi yang tak jauh dari Pom Mini tersebut. Sambil mengisap sebatang rokok, suara lirih keluar dari mulutnya.
“Sekarang mah penjual BBM eceran hampir tidak ada ya pak,” ujar Wais kepada seorang pelayan kopi, dengan dijawab anggukan kepala dari sang penjaga warung kopi.
Setelah mengisap satu batang rokok kretek, serta meminum segelas kopi hitam, Wais Al Qorni pun kembali ke sepeda motornya untuk bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sumedang.
Berbekal pengalaman yang ia alami, dirinya akan selalu mengontrol tangki motornya setiap mau berangkat kerja, karena spidometer jarum penunjuk BBM di motornya sudah tidak berfungsi.
Hal berbeda di lakukan oleh Taryan seorang pembeli BBM non subsidi lainnya, dirinya sengaja ikut antri membeli Pertamax dengan derigen untuk dijual kembali di kampungnya. Karena wilayah tempat tinggalnya cukup jauh dengan SPBU yang biasa menjual BBM bersubsidi jenis pertalite.
Sehingga mau tidak mau kebanyakan warga menggunakan BBM non subsidi untuk mengisi kendaraannya atau keperluan yang lain
“Mas isi kedua derigen ini 40 liter,” ujar Taryan singkat.
Setelah membayar lunas, Taryan pun langsung balik kanan untuk kembali kerumahnya dan menjajakan BBM non subsidi jenis pertamax di warung yang ia miliki.
Perlu masyarakat luas ketahui, saat ini pembelian BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Bio Solar hanya bisa dilakukan di SPBU yang resmi. Dalam pembelian BBM bersubsidi konsumen harus memiliki barcode kendaraannya. Hal ini dilakukan pihak pertamina dalam penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran.
Sementara kebutuhan BBM di wilayah terpencil sangat tinggi, baik untuk kendaraan bermotor ataupun untuk keperluan lainnya seperti pompa air dalam mendukung ketahanan pangan.
Peluang yang baik ini di manfaatkan mereka yang ingin mengais tambahan rejeki seperti yang dilakukan oleh Taryan untuk berjualan BBM non subsidi jenis Pertamax.
Dalam sehari, Taryan bisa menjual BBM non subsidi jenis Pertamax berkisar 50-75 liter. Dari hasil penjualannya tersebut, Taryan bisa menutupi kebutuhan sehari hari keluarganya.
“Alhamdullah, dari berjualan Pertamax ini, saya bisa memenuhi kebutuhan sehari hari, bahkan saat musim tanam kedua (MT II) tiba, penjualan Pertamax bisa melebihi hari hari biasa,” ujar Taryan.
Dari dua cerita diatas bisa disimpulkan, bahwa Pom Mini Pertamax yang berada jauh dari perkotaan cukup membantu masyarakat untuk mendapatkan BBM. Hal ini adalah langkah tepat Pertamina dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat untuk mendapatkan BBM.
Disamping itu pula, kehadiran Pom Mini Pertamax, bisa membangkitkan ekonomi di pedesaan. Karena dengan adanya Pom Mini yang menjual BBM non subsidi seperti Pertamax di wilayah terpencil, masyarakat tidak harus repot mencari SPBU yang begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Karena harus diakui, sampai saat ini pihak terkait seperti Pertamina belum bisa membangun SPBU secara merata dan menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Sementara kebutuhan BBM baik yang subsidi maupun yang non subsidi sangat tinggi dilingkungan masyarakat.
Karena di era sekarang setiap rumah bisa dipastikan memiliki kendaraan bermotor untuk keperluan sehari hari. Jadi kehadiran Pom Mini Pertamax dan penjual BBM non subsidi eceran di daerah terpencil sangat membantu masyarakat banyak.
Bagi masyarakat pedesaan, ini bukan sekadar tambahan pendapatan, tapi bukti bahwa kehadiran Pom Mini Pertashop cukup membantu masyarakat kecil yang membutuhkan BBM.
Dengan keterbatasan SPBU, maka kehadiran Pom Mini Pertashop sampai dengan penjual Pertamax eceran cukup membantu perputaran roda perekonomian pedesaan.
Hal ini sebagaimana ditegaskan Senior Manager Relations Upstream Pertamina Regional Jawa, Rian Dhanisaputra, di kegiatan Temu Insan Media & Migas (TIMNAS) Regional Jawa, di Hotel Tentrem Semarang, beberapa waktu lalu.
Rian mengatakan, pertamina sampai saat ini masih terus meningkatkan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pertamina masih terus mencari sumber migas, serta penyalurannya agar terus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Pertamina dengan berbagai teknologi akan terus berjibaku mencari sumber sumber Migas, baik melalui pengeboran maupun pemenuhan kebutuhan melalui ekspor. Hal ini dilakukan agar ketersediaan Migas untuk masyarakat terpenuhi dengan baik sampai ke pelosok,” tegas Rian. (Munadi)


Tinggalkan Balasan