KUNINGAN, (FC).- Nasib Azhari (23), mahasiswa Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Aceh, hingga kini masih terkatung-katung di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Usai menuntaskan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Azhari belum dapat kembali ke kampung halamannya di Aceh Timur akibat dampak banjir besar yang melumpuhkan akses transportasi dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Aceh.
Mahasiswa asal Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih itu menjalani PPL sejak Juli 2025 selama sekitar empat bulan di Dusun Cikopo, Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan. Ia tergabung bersama 11 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Program PPL tersebut resmi berakhir pada 28 November 2025, namun situasi darurat bencana membuat kepulangannya tertunda tanpa kepastian.
Azhari menjelaskan, pemilihan Kuningan sebagai lokasi PPL dilandasi ketertarikannya terhadap ikan dewa, spesies ikan air tawar yang memiliki nilai budaya tinggi dan dilindungi oleh kearifan lokal masyarakat setempat.
“Saya ingin belajar langsung tentang ikan dewa. Di Aceh, ikan ini hampir punah karena banyak dikonsumsi, sementara pengetahuan budidayanya masih minim,” ujar Azhari, Sabtu (03/01).
Menurutnya, kepercayaan masyarakat Kuningan yang tidak memperkenankan ikan dewa untuk dikonsumsi justru menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian spesies tersebut.
Pengalaman lapangan itu menjadi bekal berharga bagi Azhari untuk pengembangan keilmuan di bidang perikanan dan konservasi.
Namun, rencana kepulangan ke Aceh terhambat setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah Sumatra. Meski rumah orang tuanya berada di kawasan perbukitan dan tidak terdampak langsung, lumpuhnya akses jalan dan transportasi di wilayah sekitar membuat mobilitas masyarakat nyaris terhenti.
“Rumah saya memang tidak kebanjiran, tapi akses di wilayah bawah lumpuh total. Jalan tidak bisa dilalui dan aktivitas masyarakat berhenti,” kata Azhari, putra dari pasangan Siti Arpaf dan Mad Jadi.
Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan komunikasi. Azhari mengaku hanya sesekali dapat menghubungi keluarga karena jaringan telekomunikasi yang tidak stabil.
“Sinyal sering hilang. Biasanya harus pakai wifi, itu pun tidak selalu tersedia,” ujarnya.
Dari 11 mahasiswa peserta PPL, sebagian besar telah kembali ke daerah masing-masing.
Satu mahasiswa lain asal Aceh bernama Noval sudah lebih dulu pulang karena wilayah tempat tinggalnya tidak terdampak bencana.
Di tengah ketidakpastian itu, Azhari mendapat bantuan dari Dodo Ahda Breeding Fawase, pelaku usaha budidaya ikan di Desa Cibinuang.
Sejak masa PPL berakhir, Dodo dan keluarganya menanggung kebutuhan hidup Azhari, mulai dari tempat tinggal hingga kebutuhan makan sehari-hari.
“Selama dia belum bisa pulang, kami bantu sebisanya. Kami anggap seperti keluarga sendiri,” ujar Dodo.
Ia berharap ada perhatian dari pemerintah atau instansi terkait untuk membantu memfasilitasi kepulangan Azhari, mengingat kondisi yang dialami merupakan dampak langsung dari bencana alam.
Sementara itu, Azhari menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diterimanya. Ia mengaku sangat terbantu dan merasa tidak sendirian meski berada jauh dari keluarga.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Kebutuhan sehari-hari dibantu keluarga Pak Dodo. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT,” ucapnya.
Dalam waktu dekat, Azhari berencana menuju kampus pusat AUP di Jakarta pada pertengahan Januari 2026 sambil menunggu kepastian bantuan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Aceh.
Kisah Azhari mencerminkan dampak bencana alam yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menimbulkan persoalan sosial dan kemanusiaan, terutama bagi mahasiswa perantauan yang tengah menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. (Angga)

















































































































Discussion about this post