KAB. CIREBON, (FC).- Krisis air dalam dua tahun terakhir menjadi pukulan berat bagi peternak ikan air tawar dan petani di Desa Dukuhpuntang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.
Dampak krisis ini tidak hanya dirasakan warga Desa Cikalahang yang berada di sekitar sumber air Telaga Nilem, tetapi juga menjalar hingga ke wilayah hilir, termasuk Desa Dukupuntang.
Pasokan air yang sebelumnya mengandalkan saluran drainase dari Telaga Nilem kini kian menipis sejak dibangunnya jaringan pipanisasi PDAM Kuningan untuk mengaliri Kabupaten Indramayu.
Akibatnya, para peternak ikan dan petani di Dukupuntang turut merasakan dampak langsung berupa berkurangnya pasokan air untuk kolam dan sawah.
Salah seorang peternak ikan, Abdul Karim (65), menuturkan, sebelum adanya pipanisasi, aliran air dari drainase Telaga Nilem menjadi sumber utama untuk mengisi kolam ikan.
Debit air yang stabil membuat kolam selalu terisi penuh dan produksi ikan berjalan optimal.
“Dulu kami pakai air dari saluran drainase Telaga Nilem. Airnya mengalir terus, kolam bisa penuh, dan ikan cepat bertelur. Tapi sejak ada pipanisasi PDAM Kuningan ke Indramayu, air semakin sulit, terutama dua tahun terakhir ini,” ujarnya, Minggu (25/1).
Menurutnya, kondisi saat ini jauh dari ideal. Ketika aliran drainase kering, para peternak terpaksa mengandalkan air hujan dan sumur artesis.
Namun, solusi darurat itu belum mampu memenuhi kebutuhan air kolam, terlebih saat musim kemarau.
“Sekarang masih terbantu hujan, jadi belum terlalu terasa. Tapi kalau kemarau, susah sekali. Sawah saja sering tidak kebagian air, apalagi kolam ikan,” ungkapnya.
Ali menjelaskan, penggunaan air sumur artesis pun memiliki keterbatasan. Selain debitnya kecil, air tidak mengalir sehingga memengaruhi kualitas lingkungan kolam dan produktivitas ikan.
“Kalau pakai air sumur, kolam tidak bisa penuh karena harus berbagi dengan kolam lain. Produksi ikan otomatis menurun. Ikan juga tidak cepat bertelur karena airnya tidak mengalir seperti dulu,” jelas Abdul Karim.
Kondisi serupa dirasakan para petani di Dukuhpuntang. Asep (45), petani sawah setempat, mengungkapkan bahwa pasokan air irigasi untuk pertanian juga mengalami penurunan signifikan, terutama saat musim kemarau.
“Dulu air sawah relatif aman. Sekarang sering kekurangan. Kalau kemarau, kami harus bergantian mengairi sawah. Bahkan ada yang terpaksa menunda tanam karena air tidak cukup,” ujar Asep.
Menurutnya, krisis air ini berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian. Hasil panen padi menurun dan biaya produksi meningkat karena petani harus mencari sumber air tambahan.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, jelas sangat memberatkan petani. Air ini penentu hidup kami,” tegasnya.
Krisis air tersebut berdampak langsung terhadap menurunnya hasil panen ikan dan pertanian sekaligus, sehingga mengancam ketahanan ekonomi warga.
Sebagian peternak bahkan terpaksa mengurangi jumlah kolam aktif demi menghemat air, sementara petani menunda masa tanam.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan mencari solusi agar kebutuhan air untuk pertanian dan perikanan warga, baik di Desa Cikalahang maupun Desa Dukuhpuntang, tetap terpenuhi.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi kami mohon, kebutuhan air masyarakat di sekitar sumber dan wilayah terdampak juga harus menjadi prioritas. Air ini menyangkut hidup dan penghidupan kami,” pungkasnya. (Angga)












































































































Discussion about this post