KUNINGAN, (FC).- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil XIII, Toto Suharto, S.Farm., Apt., menggelar reses bertema “DPRD Mengabdi Dalam Sapa Warga Berbasis Budaya” di Kecamatan Japara, Jumat (5/12).
Kegiatan ini dikemas berbeda dengan menonjolkan unsur budaya lokal sebagai penguatan identitas masyarakat.
Dalam sambutannya, Toto menegaskan bahwa budaya lokal harus tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Ia menilai mengenalkan kembali tradisi kepada masyarakat dan generasi muda merupakan langkah penting untuk menjaga identitas daerah.
“Budaya lokal ini tidak boleh hilang. Kita harus mengenalkannya lagi agar bisa diwariskan kepada anak cucu kita,” ujarnya.
Selain berbicara soal budaya, Toto memaparkan sejumlah persoalan dan kebijakan strategis yang tengah disorot warga.
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan dana infrastruktur untuk desa dipengaruhi adanya transisi kepemimpinan di tingkat provinsi.
Namun ia memastikan seluruh program tetap berjalan.
Ia juga menegaskan bahwa anggaran pesantren tidak dihapus, melainkan akan disesuaikan agar lebih tepat sasaran dan merata.
Toto kemudian menyampaikan terkait hadirnya Sekolah Rakyat, yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu dan akan digratiskan sepenuhnya oleh pemerintah.
“Warga yang belum punya BPJS PBI bisa diarahkan melalui anggaran SKTM. Tidak boleh ada warga miskin yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Toto menambahkan bahwa pihaknya telah mengajukan anggaran Rp10 miliar untuk Kabupaten Kuningan, sebagai bentuk perhatian terhadap pembangunan Daerah .
Ia juga menyoroti kebijakan baru pembagian pajak kendaraan bermotor yang kini lebih menguntungkan daerah, dari semula 30 persen menjadi 70 persen untuk daerah.
“Saya bertanggung jawab di Dapil XIII yaitu Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar, tapi Kuningan tetap saya utamakan. Kita ingin melihat daerah ini maju di berbagai bidang,” tegasnya.
Toto juga berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menggerakkan roda ekonomi desa, terutama melalui UMKM yang berpotensi berkembang bersama Koperasi Merah Putih khususnya di wilayah Kecamatan Japara.
Sementara itu, Camat Japara, Iman Firmansyah S., STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan reses berbasis budaya ini.
Ia melihat kegiatan tersebut sebagai momentum untuk menghidupkan kembali tradisi lokal di tengah masyarakat.
“Kami pemerintah kecamatan siap berkolaborasi untuk mengenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda. Ini penting bagi identitas dan kesinambungan tradisi kita,” ujarnya.
Kegiatan reses berlangsung hangat dengan partisipasi aktif masyarakat, menegaskan bahwa pelestarian budaya, pembangunan, dan pelayanan publik dapat berjalan berdampingan ketika aspirasi warga terserap dan diprioritaskan. (Angga)










































































































Discussion about this post