MAJALENGKA, (FC).- Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Majalengka mengalami dua kendala besar dalam menghadapi
wabah virus corona di wilayahnya, yakni kelangkaan alat tes kesehatan (alkes)
dalam menentukan pasien dalam pengawasan (PDP), dan alat pelindung diri (APD)
bagi para tenaga medis dan pasien.
Kedua permasalahan tersebut dibenarkan oleh Bupati
Majalengka, H. Karna Sobahi saat dikonfirmasi wartawan FC, Senin, (24/3).
“Masalah yang kami hadapi dalam mencegah
penyebaran covid-19 di Majalengka, yaitu alat tes kesehatan dalam menentukan
PDP dan alat pelindungnya bagi para perawat,” ujar Karna.
Dijelaskan dia, untuk mengurus dan merawat PDP
positif, diperlukan alat tes kesehatan. Namun, fasilitas tersebut hingga kini
belum tersedia dan hanya ada di Jakarta, sehingga para pasien harus menunggu
keputusan hasil laboratorium sampai berhari-hari.
Dampak psikologisnya, para pasien banyak yang gelisah dan cemas dalam menunggu keputusan hasil lab tersebut.
“Ya, para pasien sangat cemas dalam menunggu hasil lab, lantaran harus menunggu berhari-hari,” imbuhnya.
Kemudian, sambung dia, untuk kendala yang kedua, yakni terkait APD bagi tenaga medis. Di samping harganya yang sangat mahal, barang itu sangat langka didapatkannya.
“Meskipun mahal, tapi kita akan tetap beli karena itu sangat dibutuhkan, tapi masalahnya barangnya sangat sulit didapat,” tegas orang nomor satu di Majalengka ini.
Masih dijelaskan dia, ADP itu hanya digunakan satu kali saat bertugas, dan setelah itu harus dihanguskan guna menghindari hal-hal yang tidak diharapkan.
“Misalnya ada tiga pasen dirawat dan ada tiga petugas, perhitungannya 3 x 1 hari x 3 orang, berarti 9 APD. Dibutuhkan 1 hari x 14 hari 126 APD x Rp. 1,8 juta totalnya Rp 3,175 miliar,” terangnya.
Lebih jauh dia mengungkapkan, sejak ditetapkannya masa darurat covid 19 di Majalengka, sampai dengan Minggu 22 Maret 2020, tercatat sebanyak 321 orang yang masuk klasifikasi 0DP. Mereka terdiri dari 178 orang asing dan sisanya TKW/TKI yang datang dari berbagai negara.
“Selain itu, ODP juga berasal dari orang yang datang dari daerah lain, yang daerah itu tinggi dalam penyebaran covid-19 dengan jumlah 143 orang,” ungkapnya.
Ditambahkan dia, setelah dipantau selama 14 hari dan dikaji berdasarkan kriteria ODP, mereka semua tidak mengindikasikan adanya keluhan dan gejala covid-19, sehingga berdasarkan kajian medis dan hasil tim pusat informasi dan koordinasi covid-19 Kabupaten Majalengka, terdapat 48 ODP, 3 orang PDP. Sntara, yang positif dan meninggal dunia akibat Coronavirus tidak ada.
“Saya berharap semua persoalan akan mampu diselesaikan untuk menghadapi darurat covid-19 di Majalengka, dan kita berdoa khususnya seluruh masyarakat Majalengka tidak ada yang positif terkena virus berbahaya ini,” harapnya. (Ibin)











































































































Discussion about this post