MAJALENGKA, (FC).- Abah Usman, begitu ia disapa, adalah seorang pria asal Blok Ciloa, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.
Ia adalah salah satu sosok pejuang yang masih hidup. Usianya saat ini sudah satu tahun melewati satu abad atau 101 tahun.
Bahkan, mungkin merupakan orang tertua di Kabupaten Majalengka yang ada.
Walau begitu, Abah Usman masih terlihat gagah dan masih kuat berjalan.
Berkomunikasi pun cukup jelas, meski ia harus berpikir lama saat akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Guratan tuanya tetap terlihat jelas dari kerutan wajah dan gigi yang sudah hampir tidak ada.
Pada masa penjajahan zaman Belanda dan Jepang, Abah Usman menjadi salah satu pejuang demi kemerdekaan.
Ia mengaku sempat mengikuti sejumlah aksi heroik para pejuang kala itu.
Dari mulai penjajahan Belanda dan Jepang, sampai zaman gerombolan Darul Islam (DI).
Saat penumpasan gerombolan DI, kata dia, dirinya sempat ikut melakukan aksi pagar betis.
Berjaga bersama empat rekannya dan satu tentara dalam satu gubuk. Lokasinya di kaki Gunung Ciremai.
“Pas ketika gerombolan DI saya juga ikut melakukan kegiatan pagar betis bersama tentara dan warga lainnya,” ujar Abah Usman saat ditemui di rumahnya, Minggu (22/8).
Disinggung kenapa ia tidak mau mendaftarkan diri menjadi veteran, Abah Usman mengaku tidak mau dan lebih memilih menjadi warga biasa saja.
Meski faktanya ia sendiri sempat ikut berperang dengan penjajah maupun gerombolan pemberontak.
“Saya lebih senang seperti ini. Gak apa-apa gak masuk veteran juga,” ucapnya.
Sementara itu, Kasi Pelayanan Umum (Yanum) Desa Lengkong Kulon, Agus Supriyadi mengatakan, berdasarkan data di Buku Induk Kependudukan (BIP), Usman lahir pada tanggal 15 Juni tahun 1920.
Bahkan, terhitung menjadi orang paling tua di desa tersebut.
Sehingga wajar saja, kerap dijadikan warga sebagai tempat bertanya tentang sejarah dan lainnya.
“Ia memang merupakan warga kami. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Berdasarkan data di BIP desa dan Dinas Kependudukan Kabupaten Majalengka, Abah Usman ini lahir pada tanggal 15 Juni 1920 atau sudah berusia 101 tahun,” ucap Agus.
Sementara itu, Kepala Dusun Ciloa, Adi Sopandi menambahkan, Abah Usman merupakan satu-satunya warga yang memelihara dan merawat Goa Belanda di puncak Bukit Gunung Biru, yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya.
Di puncak bukit tersebut, terdapat juga goa persembunyian pejuang dari penjajah Belanda.
Sehingga disebut sebagai Goa Belanda. Selain itu, Abah Usman juga yang merawat tiga pemakaman di puncak bukit tersebut, yang diyakini masyarakat sebagai makam atau kuburan pusaka serta senjata para pejuang.
“Meski usianya sudah tua seperti itu, namun Abah Usman ini masih kuat naik ke puncak Gunung Biru. Untuk sekadar merawat sejumlah makam pusaka dan membersihkan Goa Belanda itu,” jelas Adi. (Munadi)















































































































Discussion about this post