KUNINGAN, (FC).- Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) menggelar aksi konservasi dengan menanam 1.000 pohon endemik di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), tepatnya di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Rabu (11/2).
Kegiatan ini sekaligus mendorong keterlibatan pelajar sebagai calon kader konservasi masa depan.
Penanaman dilakukan di zona pemanfaatan Resort Sangiang dengan melibatkan sedikitnya lima KTH dari wilayah Majalengka selatan, yakni KTH Berkah Rimba Desa Sangiang, KTH Mekarsari Desa Sunia, KTH Rimba Mekar II Desa Sunia Baru, serta KTH dari Desa Cipulus, Kecamatan Cikijing.
Pelaksana kegiatan dari KTH Berkah Rimba Sangiang, Itang Yaya Sunarya, mengatakan bibit yang ditanam merupakan jenis pohon endemik yang sesuai dengan karakter ekosistem Gunung Ciremai.
“Alhamdulillah, hari ini 1.000 pohon sudah selesai ditanam. Jenisnya endemik seperti puspa, huru, kijamuju, kiteja, dan beberapa jenis lokal lain yang cocok untuk kawasan Ciremai,” ujarnya.
Kegiatan tersebut melibatkan unsur Forkopimcam, Polsek, perwakilan kecamatan, BPBD, pihak pengelola TNGC, serta pelajar dari SMA Talaga dan MAN Talaga yang ikut terjun langsung dalam proses penanaman sebagai bagian dari edukasi konservasi.
Menurut Itang, lokasi penanaman memiliki nilai historis karena sebelumnya merupakan lahan tumpangsari masyarakat pada masa pengelolaan Perhutani sebelum berubah status menjadi kawasan taman nasional pada 2004.
Kini masyarakat kembali dilibatkan melalui skema pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sekaligus kegiatan rehabilitasi.
“Masyarakat makin sadar bahwa hutan lestari berdampak langsung pada ketersediaan air. Sekarang manfaatnya sudah dirasakan di wilayah penyangga,” katanya.
Ia menambahkan seluruh KTH di bawah paguyuban memiliki persemaian mandiri untuk menjamin keberlanjutan program tanam. Fokus berikutnya diarahkan pada perawatan tanaman pascatanam.
“Menanam itu mudah, merawat yang paling berat. Karena itu kami jaga berkelanjutan. Kami juga ingin generasi muda ikut terlibat agar konservasi ini beregenerasi,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar, menegaskan kegiatan tanam tidak hanya berorientasi pada penghijauan kawasan, tetapi juga pembentukan kader konservasi dari kalangan pelajar.
“Anak-anak SMA yang terlibat hari ini diharapkan menjadi kader konservasi yang sesungguhnya di masa depan. Ini investasi jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, paguyuban juga berupaya membantu pelaksanaan tiga fungsi utama kawasan taman nasional, yakni pengawetan, perlindungan, dan pemanfaatan. Koordinasi dengan Balai TNGC terus diperkuat agar seluruh kegiatan masyarakat tetap sesuai aturan zonasi.
“Kami pastikan semua kegiatan on the track, tidak masuk zona inti. Selalu dikomunikasikan agar sesuai ketentuan,” kata Nandar.
Dalam kesempatan tersebut, pihak paguyuban juga berdialog dengan perwakilan Kementerian Kehutanan yang melakukan kunjungan lapangan. Hasil evaluasi awal, kegiatan konservasi berbasis masyarakat dinilai berjalan sesuai koridor dan berbasis data lapangan.(Angga)











































































































Discussion about this post