KOTA CIREBON, (FC).- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon menerapkan empat strategi pengendalian inflasi pangan yang tengah menjadi fokus perhatian pemerintah pusat.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon, Hestu Wibowo, tingkat inflasi nasional ditentukan oleh laju inflasi di daerah.
Untuk itu, diperlukan langkah-langkah upaya di daerah untuk bisa menjaga inflasi secara nasional.
“Ujung tombaknya itu daerah, sehingga peran dan fungsi dari TPID itu sangat penting dalam rangka pengendalian inflasi,” ujar Hestu usai Rakor TPID di kantor BI Cirebon, Kamis ((18/8).
TPID Kota Cirebon bersama BI Cirebon sendiri telah melakukan langkah-langkah dalam rangka menjaga stabilitas harga komoditas pangan dan pengendalian inflasi tersebut.
“Kita melakukan empat strategi dengan 4K, yaitu Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi secara rutin,” jelas Hestu.
Disamping itu juga TPID memperkuat koordinasi dan sinergi dengan para stakeholder terkait seperti BPS, Bulog, Disperindag, BI, OJK, dan TNI-Polri.
“Ini dilakukan dalam rangka bagaimana agar program-program pengendalian inflasi itu bisa berjalan secara efektif,” ungkapnya.
Hestu mengatakan, Bank Indonesia juga telah melaunching program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.
Program pengendalian inflasi pangan ini diluncurkan karena dari 3 kelompok disagregasi inflasi, kelompok Volatile Food menjadi penyumbang besar inflasi.
“Untuk disagregasi kelompok volatile food sampai dengan Juli kemarin sudah tercatat sebesar 11,43 persen,” kata Hestu.
TPID Kota Cirebon bersama BI Cirebon akan berupaya agar komponen volatile food tahun ini bisa ditekan hingga 5 persen.
“Itu harapan dan target kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekda Kota Cirebon yang juga Ketua TPID Kota Cirebon, Agus Mulyadi mengatakan, untuk menjaga keterjangkauan harga, kelancaran distribusii, ketersediaan komoditas pangan, diperlukan kerjasama antar daerah produsen.
“Perlu kerjasama antar daerah produsen. Apalagi Kota Cirebon ini kan bukan daerah produsen untuk beberapa komoditas yang dalam histori inflasi sebulan terakhir mengalami tekanan yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Beberapa komoditas penyumbang inflasi tinggi itu terjadi pada kelompok volatile food, terutama bawang merah dan cabai merah.
“Karena bawang merah dan cabai merah ini tingkat konsumsi di masyarakatnya tinggi,” kata Agus Mulyadi.
Langkah upaya lainnya yang akan dilakukan TPID Kota Cirebon yaitu penguatan program ketahanan pangan, mendorong masyarakat bisa produksi secara mandiri, khususnya bawang merah dan cabai merah.
Di Kota Cirebon sebenarnya sudah terbentuk Kampung Pangan Lestari, juga Kelompok Wanita Tani (KWT).
Dan program ketahanan pangan kini akan lebih digencarkan lagi ke masyarakat melibatkan Tim Penggerak PKK.
“Nanti dari Bank Indonesia akan menyediakan bibitnya, dan nanti dari dinas ketahanan pangan akan melakukan pembinaan,” jelas Sekda Agus.
“Kalau ini bisa dikembangkan di seluruh RW kita, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan dapurnya itu bisa diperoleh dari sendiri secara swadaya,” imbuhnya. (Andriyana)














































































































Discussion about this post