KUNINGAN, (FC).- Warga Dusun Seming Desa Baok Kecamatan Ciwaru, khususnya yang para petani terpaksa harus tidur di sawah apabila hujan tiba, mengingat jembatan Cijurey yang biasa digunakan melintas ambruk akibat terbing penahan jembatannya longsor tergerus aliran sungai Cijurey.
Seperti disampaikan Siti (47) warga Dusun Seming Desa Baok Kecamatan Ciwaru mengaku harus turun kesungai untuk menyeberangi jalan, untuk menuju ke lokasi sawah yang sebagai sumber mata pencahariannya.
“Waktu ambruk itu jembatan kita juga kaget, terdengar sangat kencang. Karena posisi jembatan dengan sungai cukup tinggi. Dan sekarang kalau ke sawah harus ke bawah dulu, nyebrang sungai, biasanya kan lewat jembatan itu,” ujar Siti, minggu (26/1).
Diakui Siti, mengingat saat ini musim tandur (menanam), saat hujan tiba dia tidak berani pulang, karena ketika hujan sungai Cijurey ini tinggi, jadi tidak bisa nyebrang, jadi mau tidak mau kalau hujan ya tidur di sawah,” jelas Siti.
Sementara, Lurah Seming Desa Baok, Gina Sonia menyebutkan kejadian jembatan ambruk setelah adanya hujan turun pada sabtu siang sekitar pukul 12.00 Wib hingga pukul 15.00 Wib. Tiba – tiba terdengar suara keras seperti bangunan roboh sekitar 14.30 Wib.
“Ternyata itu suara jembatan roboh, untungnya tidak ada aktivitas warga yang sedang melintas,” sebut Gina.
Disebutkan Gina, masyarakatnya lebih sering menggunakan jembatan tersebut untuk menyeberangi sungai karena sebagian besar sawah warganya banyak di seberang sungai. Bahkan aktivitas perekonomian lainnya sangat membantu karena bisa langsung ke Desa Sukasari Kecamatan Karangkancana.
“Kalau mau ke Karangkancana sekarang harus memutar, bisa 1 jam perjalanan, kalau memotong ke sini cukup 15 menit,” ujar Gina.
Sementara, Camat Ciwaru H. Pepen Supendi mengatakan bahwa pihaknya mengaku bahwa pihaknya sudah melaporkan kepada instansi terkait yaitu BPBD, dan telah direspon kemarin langsung turun ke lokasi kejadian bersama unsur lainnya.
“Kita harap pemerintah daerah, provinsi ataupun pusat bisa merealisasi lagi pembangunan jembatan ini, Karena jembatan ini digunakan untuk lintas kecamatan sebagai alternatif kegiatan perekonomian warga,” ujar Pepen.
Disebutkannya jembatan tersebut baru dibangun pada tahun 1997 silam. Dan mungkin karena fasilitas pendukung lainnya seperti irigasi sekitar jembatan dan kondisi jalan yang tidak membuang air ke irigasi, sehingga menyerap ke dalam dan membuat pondasi rapuh.
“Jembatan ini tidak ada tiang penyangganya. Dengan ketinggian 12 meter, panjang sekitar 15 meter dengan lebar 4 meter. Meski bisa dibilang jembatan pasif, tapi ini sangat bermanfaat untuk masyarakat,” jelas Pepen.
Terpisah, Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan DPUTR Kuningan Teddy SUkmajayadi saat bertemu dijalan menyebutkan pihaknya akan melakukan peninjauan ke lokasi. Namun melihat dari status jembatan tersebut merupakan jembatan pasif.
“Solusinya sementara nanti kita akan buatkan jembatan darurat, agar bisa dilintasi masyarakat,” ujarnya singkat. Disekitar lokasi jembatan, terdapat prasasti bahwa jembatan tersebut tahun 1997 hingga 1998 masa pengerjaannya menghabiskan anggaran sekitar 92 Juta rupiah. Dengan pelaksana CV. Ade Irma Pratama, melalui program Bantuan APBD Tingkat I Tahun 1997/1998. (ali)







































































































Discussion about this post