MAJALENGKA, (FC).- Kemacetan di sepanjang jalan Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka setiap jelang waktu berbuka puasa tidak bisa dihindari.
Hal ini selain bersamaan dengan para buruh pabrik pulang kerja, waktu tersebut bersamaan masyarakat keluar rumah mencari makanan untuk berbuka puasa. Kemacetan tersebut disamping jalannya yang kurang lebar, juga kehadiran pasar tumpah menjadi penyebab utama.
Setiap sore hari di jalur utama Ligung – Bantarwaru memang biasa hadir para pedagang makanan di pasar tumpah tersebut.
Mengingat kawasan pabrik yang tak jauh dari lokasi pasar tumpah tersebut menjadikan surga bagi para pedagang untuk mengais cuan dari pekerja yang baru pulang sekaligus mencari jajanan sore. Di hari biasa tidak pernah dijumpai kemacetan karena rata rata pembeli adalah para pekerja.
Lain halnya di bulan puasa, disamping para pekerja, masyarakat pun turut keluar rumah mencari jajanan untuk berbuka sekaligus ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka. Sehingga kemacetan tak bisa dihindari di kawasan jalur Ligung – Bantarwaru.
Abdul Kholik seorang buruh pabrik mengatakan, jalur ini dihari biasa tidak pernah macet. Namun di bulan puasa setiap sore kemacetan sudah tidak bisa dihindari.
Penyebabnya kata Kholik, disamping ratusan kendaraan bermotor yang berlalu lalang, kekurangan kedisiplinan para pedagang pasar tumpahpun dinilai masih kurang.
Mereka para pedang rata rata berjualan memakan badan jalan. Sehingga jalan raya yang seharunya untuk kendaraan berlalulintas, sebagian termakan oleh meja para pedagang.
Disamping itu pula, kurang disiplin pembeli jadi faktor utama kemacetan.
“Rata rata pembeli enggan memarkirkan kendaraannya ditempat parkir yang tersedia saat hendak membeli jajanan. Mereka lebih suka membeli jajanan dari atas kendaraan yang berhenti di sisi jalan. Hal ini lah yang mengundang kemacetan disetiap sorenya,” ujar Abdul Kholik, Senin (2/3).
Nada yang sama disampaikan buruh pabrik yang lain, pedagang dan pembeli di sepanjang jalan raya Ligung – Bantarwaru rata rata kurang disiplin. Mereka tidak mengindahkan pengguna jalan yang lain, kalau di tegur mereka tidak terima.
“Ya mereka tidak menghargai pengguna jalan yang lain. Kalau di kasih paham mereka suka tidak menerima. Saya males bertengkar mulut, apalagi ini bulan puasa,” ujar buruh pabrik yang mengaku bernama Yuli.
Dari kejadian ini, seharusnya pemangku kebijakan seperti Satpol-PP, Polisi dan petugas Dishub segera turung tangan untuk mengurai kemacetan yang setiap sore terjadi.
Sehingga baik itu pedagang, pembeli serta pengguna jalan akan merasa nyaman andaikata ada petugas yang turut turun kejalan ikut mengatur lalu lintas. (Munadi)










































































































Discussion about this post