KOTA CIREBON,(FC). – Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kota Cirebon mendorong para pelaku UMKM memaksimalkan media sosial untuk memperluas pemasaran.
Pasalnya, di era digital ini masyarakat cenderung menggunakan media sosial baik Instagram, Facebook, dan lainnya untuk melihat maupun memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.
Media sosial dinilai menjadi sarana yang sangat efektif baik untuk pengenalan sebuah produk, pemasaran hingga penjualan karena bisa menjangkau konsumen lebih luas tanpa batasan ruang dan waktu.
Pemanfaatan media sosial untuk pemasaran juga harus dibarengi dengan kualitas dan kemasan produk yang baik.
Ditemui di kantornya, Kepala DKUKMPP Kota Cirebon Iing Daiman mengatakan, metode pemanfaatan media sosial bisa didapatkan dari beberapa komunitas maupun tutorial di sejumlah platform
Selain itu pihaknya juga selalu bersinergi dengan perusahaan berbasis digital untuk memberikan pendampingan maupun pembekalan kepada pelaku UMKM mengenai pemanfaatan media sosial untuk pemasaran.
“Dalam hal ini kami selalu berusaha mengajak para pelaku UMKM di Kota Cirebon khususnya untuk naik kelas. Salah satu caranya adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran untuk meraih konsumen lebih luas lagi,” katanya, Selasa (27/6).
Ia melanjutkan, memperkenalkan suatu produk tidak hanya dilakukan secara konvensional saja seperti pameran dan bazar tetapi bisa dilakukan secara digital.
Menurutnya, pelaku UMKM perlu menguasai strategi marketing berbasis teknologi informasi.
“Memperkenalkan atau menjual suatu produk tidak hanya dilakukan secara konvensional saja. Karena belum semua pelaku UMKM mengerti dan menguasai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pemasaran. Padahal dengan media sosial ini kan sekarang cukup masif juga untuk marketing produk-produk UMKM,” terangnya.
Walaupun tidak menyebutkan persentasenya, menurutnya hingga kini produk yang paling banyak diminati masyarakat belanja melalui media sosial adalah produk makanan, minuman, dan souvenir khas daerah.
“Yang tertinggi masalah makanan dan minuman, karena produk ini trennya relatif lebih pesat. Faktor penyebabnya mungkin karena Cirebon ini terbranding dengan batik dan kuliner,” tuturnya.
Ia menambahkan, untuk memantau progres pelaku UMKM yang sudah terjun di media sosial, pihaknya memiliki group yang terkoneksi dengan pengusaha.
“Untuk memantau atau memonitoring progres UMKM, kami memiliki group yang selalu memberikan informasi terkait dinamika UMKM. Dari sana kita bisa melakukan evaluasi, pemantauan hingga pengambilan keputusan untuk kemajuan UMKM itu sendiri,” pungkasnya. (Frans/Job/FC)













































































































Discussion about this post