MAJALENGKA, (FC).- Banyaknya masyarakat yang masih mengandalkan pinjaman kepada bank emok atau rentenir untuk modal usaha atau keperluan yang lainnnya, membuat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka H Eman Suherman angkat bicara.
Sekda Eman berharap agar masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas pinjaman baik itu dari BUMDes atau program pinjaman yang lainnya seperti KUR. Karena pinjaman dari BUMDes atau KUR dari perbankan, jasanya tidak memberatkan si peminjam, berbeda dengan bank emok atau retenir.
”Kalau bisa jangan sampai masyarakat terjebak oleh rentenir atau bank emok, kan sekarang itu sudah banyak fasilitas pinjaman, dari perbankan seperti KUR,” ungkap Sekda Majalengka, Eman Suherman kepada wartawan, Rabu (10/8).
Sekda Eman menambahkan, selain itu, masih ada fasilitas lainnya seperti pinjaman dari BUMDes. BUMDes di setiap desa agar difungsikan sebagaimana mestinya, karena hal itu akan mencegah rentenir masuk. “Jika mau, lihatlah Kuwu Kawunghilir, seorang kuwu berani meminjamkan uang pribadinya. Namun, setiap desa kan punya BUMDes, manfaatkan saja itu,” ungkapnya.
Sekda Eman menuturkan, fenomena banyaknya rentenir dan bank emok yang masuk ke kampung dan desa-desa, harus disikapi oleh masyarakat secara cerdas. Caranya, dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman dari pemerintah.
“Seorang pemimpin harus tegas, makanya, saya ingatkan BUMDes di setiap desa harus difungsikan sebagaimana mestinya. Itu semua kan tergantung ketegasan dari kepala desa atau kuwunya,” jelas Sekda Majalengka.
Terpisah, salah satu masyarakat Desa Kawunghilir Kecamatan Cigasong, Saiti mengatakan, mulai tahun kemarin bank emok sudah tidak masuk lagi ke desanya.
Hal ini karena Kadesnya rela merogoh koceknya sendiri untuk memberikan pinjaman kepada masyarakat tanpa menuntut jasa. Berbeda dengan bank emok atau rentenir, mereka memberikan pinjaman padahal mereka mencekik leher si peminjam secara perlahan.
“Alhamdulillah, di Desa Kawunghilir, bank emok atau rentenir enggak bisa masuk, karena warga di sini pinjam modal usahanya dari Kades dan pinjamannya tanpa jasa lagi,” kata Saiti, seorang ibu rumah tangga dari Desa Kawunghilir. (Munadi)
















































































































Discussion about this post