MAJALENGKA, (FC),– Dunia fashion di Majalengka mulai menemukan napas baru dari tangan-tangan kreatif warganya. Salah satunya lewat sosok Ayank R Sambara, seorang pewarta bahasa Sunda yang juga dikenal sebagai desainer busana daur ulang.
Lewat karya-karyanya, Ayank mengenalkan wajah baru fashion Majalengka yang ramah lingkungan, sarat nilai, dan penuh karakter.
Berbasis dari rumahnya di Majalengka, Ayank mengubah kain-kain bekas menjadi busana unik yang telah dipamerkan dalam berbagai pergelaran. Tak hanya itu, beberapa karyanya juga laku dengan harga fantastis, termasuk gaun pesta senilai Rp15 juta yang langsung dibeli usai fashion show di Bandung.
“Saya ingin Majalengka punya kontribusi juga di dunia fashion. Tidak hanya lewat batik atau kerajinan, tapi juga busana daur ulang yang punya pesan lingkungan,” ujarnya, Rabu (30/7).
Kain-kain bekas yang semula dianggap tak bernilai disulap Ayank menjadi busana dengan detail artistik. Uniknya, ia memadukan seni lukis langsung di atas kain perca, sebuah pendekatan yang jarang ditemukan di dunia fashion lokal.
“Saya lukis langsung di atas bahan daur ulang. Ini jadi tantangan tersendiri karena harus memadukan konsep desain dan pesan yang saya bawa,” katanya.
Ayank bukan sekadar menciptakan baju, tetapi membangun narasi bahwa fashion bisa hadir dari desa dan tidak harus serba glamor dari kota besar. Langkah Ayank menjadi inspirasi bahwa Majalengka punya potensi besar dalam dunia fashion. Dengan modal minim, tapi ide kuat, ia menciptakan karya dengan nilai jual tinggi. Dari kaus oblong seharga Rp150 ribu hingga gaun eksklusif puluhan juta.
“Saya ingin anak-anak muda di Majalengka nggak takut untuk berkarya. Nggak harus ke Bandung atau Jakarta, dari sini pun kita bisa mulai,” ungkapnya.
Meski tidak berlatar pendidikan desain, Ayank membuktikan bahwa passion dan kepedulian sosial bisa menjadi fondasi kuat dalam menciptakan karya fashion. Waktu pengerjaan satu gaun bisa mencapai tiga bulan—dikerjakan sendiri, dari menjahit hingga melukis.
Karya-karya Ayank kini jadi pembicaraan di komunitas fashion berkelanjutan. Ia membuka ruang dialog baru: bahwa fashion dari Majalengka pun bisa menjelma jadi tren nasional, bahkan global.
Tak sekadar estetika, karya Ayank membawa pesan kuat soal kesadaran lingkungan, terutama terhadap limbah tekstil yang kini jadi ancaman industri. Baginya, setiap baju yang lahir dari kain perca adalah simbol perlawanan terhadap budaya konsumtif dan pemborosan.
“Saya ingin anak-anak muda di Majalengka sadar bahwa dari limbah pun bisa lahir karya. Fashion tidak hanya soal gaya, tapi juga tanggung jawab,” tuturnya.
Melalui tangan-tangan kreatif seperti Ayank R Sambara, Majalengka mulai menegaskan identitas barunya: bukan hanya kota wisata dan pertanian, tapi juga rumah bagi pelaku fashion masa depan yang membawa misi keberlanjutan. (Munadi)













































































































Discussion about this post