INDRAMAYU, (FC).- Ratusan Massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Balongan Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang PT Pertamina Patra Niaga, Balongan, Kabupaten Indramayu, diwarnai kericuhan, Selasa (23/9)
Kericuhan ini dipicu saat massa aksi yang menuntut pembagian susu kaleng dan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk masyarakat merangsek masuk ke area perusahaan namun dihalau petugas keamanan.
Massa sempat mencoba merobohkan pintu gerbang dan melempari petugas dengan botol air mineral. Akibat aksi itu, kaca pos keamanan pecah terkena lemparan peserta demonstrasi.
Ketua Forum Masyarakat Balongan Bersatu, Akso Surya Darmawangsa (43), menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pertamina. Tuntutan utama adalah kelanjutan program pembagian susu kental manis per jiwa yang disebut telah terhenti selama sembilan bulan terakhir.
“Intinya kita ingin program pembagian susu itu terus berlanjut. Saat ini sudah lebih dari sembilan bulan tidak ada pembagian susu karena dialihkan ke program lain yang tidak diinginkan masyarakat. Satu kaleng susu untuk satu jiwa, jumlahnya sekitar 8.000 sampai 9.000 jiwa,” tegas Akso.
Selain susu kaleng, massa juga menuntut Pertamina membangun Balai Latihan Kerja (BLK) guna meningkatkan keterampilan pemuda Balongan.
Menurut Akso, keberadaan BLK sangat mendesak karena saat ini warga harus membayar Rp7–8 juta untuk mendapatkan sertifikasi.
“Padahal di Balongan ada lima Pertamina, tapi tidak ada BLK. Ini ironis. Kalau ada BLK, masyarakat bisa punya skill untuk bekerja di Pertamina,” ujar Akso.
Tak hanya itu, demonstran juga meminta adanya beasiswa berkala dengan konsep satu keluarga satu sarjana, pembangunan breakwater untuk menahan abrasi pantai, serta program pengembangan ekonomi mikro dan makro bagi warga yang tidak terserap proyek Pertamina.
Massa juga mendesak adanya akses pengobatan gratis di rumah sakit Pertamina, mengingat warga kerap terdampak polusi maupun limbah perusahaan.
Namun, pertemuan dengan pihak Pertamina disebut berakhir tanpa hasil atau dead lock.
“Pertamina memaksakan kehendak, kita juga tetap pada tuntutan. Jadi tidak ada titik temu,” kata Akso.
Sementara itu, Sundari (54), warga Balongan, menilai sejak Pertamina berdiri pada 1972, masyarakat belum memperoleh kompensasi yang layak.
“Bau limbah dan kebisingan tiap hari kami rasakan. Tapi hak masyarakat tidak pernah dipenuhi. Bahkan untuk susu saja, kalau tidak demo, tidak akan diberikan. Pertamina tidak punya inisiatif sendiri,” ujarnya.
Aksi ini dipastikan akan terus berlanjut bila tuntutan tidak dipenuhi. Warga bahkan berencana mendirikan dapur umum dan menduduki area sekitar perusahaan hingga kesepakatan tercapai.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak Pertamina belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan warga. (Agus Sugianto)











































































































Discussion about this post