Puluhan Tahun Menanti Air Bersih, Warga Blok Raksabumi Desa Cipeundeuy Bertahan dengan Air Selokan Yang Keruh
MAJALENGKA, (FC).— Air bersih yang bagi sebagian orang mengalir begitu mudah dari keran masih menjadi sesuatu yang sulit didapatkan warga Blok Raksabumi, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. Selama puluhan tahun, mereka bertahan di tengah keterbatasan, bahkan terpaksa menggunakan air selokan Kali Cihieum untuk mandi dan mencuci.
Persoalan itu belum juga menemukan jalan keluar. Sekitar 60 kepala keluarga (KK) di lingkungan RT 1 RW 05 Blok Raksabumi masih kesulitan memperoleh air yang layak. Saat musim kemarau, air selokan relatif lebih jernih. Namun, ketika hujan turun, air berubah keruh sehingga semakin sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga tak punya banyak pilihan. Air sumur yang tersedia di lingkungan mereka pun keruh, sementara kebutuhan air minum menjadi persoalan tersendiri. Kebutuhan dasar yang seharusnya mudah dipenuhi justru menjadi tantangan yang terus mereka hadapi dari hari ke hari.
“Kalau musim kemarau airnya lumayan agak bersih, tapi kalau musim hujan airnya sangat keruh. Apalagi sekarang menjelang musim penghujan,” kata Ketua RT 1 RW 05 Blok Raksabumi, Andis Setiawan, Sabtu (24/10).
Pernyataan Andis menggambarkan kegelisahan warga yang telah lama hidup dalam keterbatasan air bersih. Persoalan ini bukan hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berdampak pada aktivitas pendidikan, ibadah, dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Di Blok Raksabumi, kebutuhan air juga dirasakan Pondok Pesantren Darul Falah, Pondok Pesantren Sirojul Ulum, serta Musala Darul Falah. Ketersediaan air sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari para penghuni pesantren dan masyarakat yang beribadah di musala.
Ironisnya, harapan untuk mendapatkan air bersih sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Sumber air tersedia di Kampung Angsana, sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga.
Namun, sumber tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena belum tersedia jaringan penyaluran air hingga ke Blok Raksabumi. Bagi warga, jarak tersebut bukan satu-satunya persoalan. Keterbatasan biaya menjadi penghalang sehingga sumber air itu belum bisa dialirkan hingga ke rumah-rumah mereka.
Andis memperkirakan dibutuhkan anggaran sekitar Rp20 juta untuk membangun sarana penyaluran air. Dana tersebut diperlukan untuk membeli pipa paralon, toren berkapasitas 1.000 liter, serta tiang besi sebagai penyangga tempat penampungan air.
Anggaran itu menjadi gambaran kebutuhan untuk membangun jaringan distribusi agar sumber air di Kampung Angsana dapat menjangkau sekitar 60 KK, termasuk lingkungan dua pesantren dan sebuah musala.
Selama sarana tersebut belum tersedia, warga masih harus menghadapi persoalan air bersih yang telah berlangsung puluhan tahun. Mereka belum bisa sepenuhnya mengandalkan sumber air yang lebih layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Andis, harapan warga kini tertuju pada perhatian pemerintah. Ia berharap ada bantuan maupun fasilitasi agar pembangunan jaringan distribusi air bersih dapat segera direalisasikan.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu dan memfasilitasi kebutuhan air bersih warga di sini,” ujarnya.
Sementara itu, Oping (44), salah seorang warga Blok Raksabumi, mengaku sangat mendambakan air bersih yang layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Baginya, air bersih bukan sekadar kebutuhan, melainkan harapan sederhana yang hingga kini belum sepenuhnya bisa ia nikmati.
Di tengah keterbatasan yang telah berlangsung bertahun-tahun, ia ingin bisa mendapatkan air yang bersih dan aman tanpa harus terus bergantung pada air selokan. Keinginan itu terdengar sederhana, tetapi bagi warga Raksabumi, mendapatkan air bersih masih menjadi impian yang belum terwujud.
“Dari kecil hingga sekarang saya selalu menggunakan air selokan untuk mandi dan mencuci. Ingin sekali di rumah ada air bersih yang bisa digunakan untuk minum dan keperluan lainnya,” kata Oping.
Harapan itu sederhana, warga ingin mendapatkan air yang lebih layak untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka berharap kebutuhan dasar tersebut tidak lagi menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim berganti.
Sumber air di Kampung Angsana kini menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat Blok Raksabumi. Dengan dukungan anggaran sekitar Rp20 juta dan pembangunan sarana penyaluran, air yang selama ini belum menjangkau permukiman diharapkan dapat menjadi solusi bagi puluhan keluarga.
Bagi warga yang telah puluhan tahun menanti, air bersih bukan sekadar soal pipa, toren, atau pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, mereka menantikan kesempatan untuk hidup lebih layak, tanpa harus terus bergantung pada air selokan yang keruh demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Munadi)


Tinggalkan Balasan