MAJALENGKA, (FC).– Kemarau panjang mulai menguji ketahanan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka. Ketika sumber air warga semakin terbatas, kebutuhan air bersih berubah menjadi persoalan mendesak yang membutuhkan respons cepat dari pelayanan publik.

Menjawab kondisi tersebut, Perumdam Tirta Bhakti Raharja Majalengka (PDAM Majalengka) menyalurkan puluhan tangki air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

Direktur PDAM Majalengka Sri Rahayu D mengatakan, penyaluran air bersih merupakan bentuk respons perusahaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.

“Kami berupaya hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak kemarau dan mengalami keterbatasan air bersih,” ujar Sri Rahayu, Senin (12/10).

Menurutnya, distribusi air bersih dilakukan sebagai bagian dari komitmen PDAM dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, tidak hanya melalui jaringan perpipaan, tetapi juga dengan merespons kondisi darurat di lapangan.

Di tengah kondisi tersebut, air bersih bukan sekadar bantuan. Setiap tangki yang datang membawa kebutuhan paling mendasar bagi warga untuk memasak, minum, mencuci hingga menjaga keberlangsungan aktivitas rumah tangga.

Puluhan tangki air dikerahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan warga. Dalam pelaksanaannya, PDAM Majalengka juga menggandeng TNI dan Polri, sehingga proses distribusi dapat dilakukan secara bersama-sama dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Kolaborasi tersebut menjadi penting di tengah kondisi kemarau yang berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Sri Rahayu menegaskan, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh terputus, sehingga PDAM akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi kondisi kekeringan.

Langkah tersebut sekaligus menempatkan pelayanan air bersih bukan sekadar urusan distribusi, tetapi sebagai bentuk kehadiran pelayanan publik ketika masyarakat menghadapi tekanan akibat kondisi alam.

Saat kemarau mengeringkan sumber air, pelayanan publik justru dituntut semakin hadir. Puluhan tangki yang bergerak ke tengah permukiman menjadi bukti bahwa kebutuhan dasar warga tetap harus dijaga. Bagi warga yang tengah menghadapi kemarau, kedatangan tangki-tangki air itu bukan sekadar rutinitas distribusi.

Di balik deru kendaraan dan aliran air yang memenuhi penampungan, ada pesan sederhana: di tengah kemarau, kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian dan tidak boleh dibiarkan sendiri. (Munadi)