KAB.CIREBON, (FC).- Kebocoran Bendungan Karet Tawangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, dikeluhkan petani. Kerusakan yang terjadi di dua titik itu dinilai mengganggu pasokan air tawar untuk ratusan hektare lahan pertanian di Tawangsari dan sejumlah desa lainnya.

Petani Desa Tawangsari, Sarwandi alias John, mengatakan kondisi bendungan telah mengalami kerusakan selama lebih dari satu tahun. Persoalan tersebut, kata dia, sudah disampaikan kepada pihak terkait, namun hingga kini belum ada perbaikan permanen.

“Bendungan karet ini bocor dan sangat berpengaruh terhadap pengairan sawah. Untuk wilayah Tawangsari saja luasnya lebih dari 100 hektare, belum termasuk wilayah desa lainnya,” ujar Sarwandi, Selasa (6/10).

Menurutnya, air dari bendungan tersebut tidak hanya dimanfaatkan petani Desa Tawangsari. Alirannya juga digunakan untuk mengairi persawahan di Desa Kalirejo dan Kalisari, bahkan berkaitan dengan kebutuhan pertanian di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Kondisi semakin mengkhawatirkan saat terjadi pasang air laut atau rob. Kebocoran bendungan membuat air asin atau payau berpotensi masuk ke saluran irigasi dan mengganggu ketersediaan air tawar bagi lahan pertanian.

“Kalau musim rob, air asin bisa masuk cukup jauh. Ketinggiannya bisa lebih dari satu meter. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi petani karena sawah membutuhkan air tawar,” katanya.

Sarwandi menuturkan, persoalan air tidak hanya terjadi ketika rob. Saat air surut pun petani masih kesulitan mendapatkan pasokan air tawar.

Mereka terpaksa melakukan langkah darurat dengan mencari dan mengalirkan air dari sumber lain agar kebutuhan sawah tetap terpenuhi.

“Air asin terus masuk karena ada kebocoran di dua titik. Kalau tidak segera diperbaiki, kami khawatir kebutuhan air untuk ratusan hektare sawah semakin sulit terpenuhi,” ungkapnya.

Dari dua titik kerusakan, bagian timur disebut menjadi lokasi yang kondisinya paling parah. Menurut Sarwandi, perbaikan membutuhkan penanganan teknis dari pemerintah dan instansi berwenang karena masyarakat tidak mampu mengatasinya secara manual.

“Sejauh ini belum ada bantuan. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki bendungan karena kalau hanya mengandalkan cara manual, kami tidak mampu,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah sebelum memasuki masa tanam berikutnya. Perbaikan bendungan dinilai penting untuk menjamin pasokan air tawar sekaligus mengantisipasi masuknya air asin ketika rob.

“Yang penting bendungannya segera diperbaiki. Kami sebagai petani sangat membutuhkan air tawar untuk lahan pertanian,” pungkasnya. (Nawawi)